penyerahan bantuan alat MOAT pada mitra di probolinggo

Moat : Alat Penangkap Hama Portabel Sebagai Solusi Peningkatan Hasil Panen Petani Bawang Merah Indonesia

Indonesia terkenal sebagai negara agraris dimana mayoritas penduduknya adalah petani. Ada banyak jenis holtikultura yang ditanam di Indonesia seperti padi, jagung, umbi-umbian, cabai, hingga bawang merah.

Bawang merah sendiri merupakan jenis tanaman yang memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Sentra bawang merah di Indonesia terdapat di enam provinsi yaitu Sulawesi Selatan, Sumatera Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat. Perkembangan bawang merah meliputi luas tanam, luas panen, produksi dan harga. Secara umum realisasi tanam bawang merah periode Januari – Juli 2017 mencapai 82,57 ribu hektar, hal ini mengalami kenaikan sebesar 2,28% jika dibanding periode tahun sebelumnya. Namun, realisasi panen bawang merah sendiri mengalami penurunan sebesar 2,64% yang sebelumnya mencapai 87,19 ribu hektar pada tahun 2016, hanya menjadi 84,89 ribu hektar pada kurun waktu Januari–Juli 2017 ( Pusat Data dan Sistem Informasi Kementerian pertanian).

Penyebab berkurangnya jumlah panen tersebut salah satunya karena penanganan hama yang kurang efektif sehingga hama bebas menyerang. Metode yang digunakan pun masih terbilang metode lama yang kurang efisien membuat petani pun sering mendapati hasil panen yang kurang berkualitas dan memuaskan.

ketika di aplikasikan pada petani bawang
ketika di aplikasikan pada petani bawang | Foto koleksi tim

Menjawab kegelisahan masyarakat di Desa Sumberbulu, Tegalsiwalan, Probolinggo ini, lima mahasiswa dari Universitas Negeri Malang yaitu Yusuf Aji Wicaksono (S1 Teknik Mesin 2016), Dani Prasetiyo (S1 Pendidikan Teknik Mesin 2016) , Himmatul Ulya Alfaratri Syachofina (S1 Pendidikan Fisika 2014), Eka Larasati Oktaviani (S1 PG-PAUD 2014), dan Ardi Lestari (S1 Teknik Elektro 2015) dengan dosen pembimbing Dr. Retno Wulandari S.T., M.T., memberikan solusi pemberantasan hama tanaman bawang merah yang efektif, efisien, dan tentunya memberikan dampak nyata bagi petani dengan MOAT (Moth Attractor Technology) alat penangkap hama ngengat (Spodoptera exigua) sebagai solusi peningkatan hasil panen bawang merah.

Kelebihan alat ini dibanding alat sejenis milik petani adalah penambahan fitur RTC (Real Time Clock) dimana nantinya MOAT mampu nyala dan mati sesuai dengan waktu hama menyerang yakni pukul 18.00 – 24.00. Selain itu MOAT juga didesain portabel dan rechargeable jadi mampu ditaruh pindahkan sesuai keinginan juga baterai yang bisa di-charge ulang sehingga pemakaian dapat tahan lama.

Penggunaan MOAT  pun terbilang mudah petani cukup menaruh alat sesuai dengan daerah dimana hama sering muncul dan berkerumun, lalu menghidupkan MOAT dan ditinggal untuk istirahat dan keesokan harinya hama yang tertangkap bisa di ambil dan alat di charge ulang kemudian digunakan seperti sebelumnya hingga masa panen tiba. Perawatannya juga begitu gampang petani hanya diharuskan membersihkan sisa hama dan lem yang menempel pada alat, di charge setiap hari agar baterai selalu terisi penuh, dilarang mengguncangkan alat agar komponen di dalam tetap stabil dan aman, juga melakukan pengecekan secara berkala kondisi komponen elektronikanya selama dua minggu sekali.

Dengan MOAT ini tim dari Universitas Negeri Malang diharapkan mampu bersaing pada Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dan mampu melaju hingga pada PIMNAS 31 yang akan digelar di Jogjakarta. Di kompetisi ini pun tim membawa pesan tersirat bahwasannya sudah saatnya para mahasiswa bergerak aktif menanggulangi masalah di Indonesia dengan pemanfaatan Teknologi Tepat Guna. Karena sejatinya prestasi itu bukan ketika kita lebih baik dari yang lain, melainkan ketika kita lebih bermanfaat dari yang lain.

 

Penulis : Yusuf Aji Wicaksono (Mahasiswa S1 Teknik Mesin 2016 Universitas Negeri Malang)

Post Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *