Tampak Alat PEASE (Pendulum Earthquake Sensor

Keren, Mahasiswa UM Ini Ciptakan Solusi Efektif Tanggapi Gempa Bumi

Secara geografis, Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng aktif dunia yaitu lempeng Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik. Kondisi ini mengakibatkan Indonesia menjadi salah satu negara dengan intensitas bencana gempa bumi yang tinggi.

Tim PEASE beserta dosen pembimbing
Tim PEASE beserta dosen pembimbing | Dok. Pribadi Tim

Hebatnya, sekelompok mahasiswa dari Fakultas Teknik Universitas Negeri Malang yang terdiri dari Septya Hananta Widyatama (Teknik Mesin 2016), Yusuf Aji Wicaksono (Teknik Mesin 2016), Rangga Ega Santoso (Teknik Mesin 2013), dan Fitri Ika Mardiyanti (Teknik Sipil 2013) ini menciptakan sebuah alat guna meminimalisir dampak gempa bumi tersebut. Adalah PEASE (Pendulum Earthquake Sensor) alat detektor getaran berbasis sistem pendulum sebagai solusi sistem peringatan dini datangnya gempa bumi.

Canggihnya, PEASE ini menggunakan double fungsi yakni ditambahnya fitur lampu sebagai mode penambah nilai guna alat tersebut. Dipilihnya lampu sebagai fitur tambahan  dikarenakan pada zaman modern seperti sekarang lampu bisa dikategorikan kebutuhan primer masyarakat.

Penggunaan dan perawatan PEASE ini begitu mudah. Pengguna cukup melakukan pengecekan kondisi alat selama 2 minggu sekali. Walaupun harus tersambung dengan listrik, namun daya listriknya yang dihabiskan sangat minim karena bersistem hybrid.

Tampak Komponen Dalam PEASE
Tampak Komponen Dalam PEASE | Dok. Pribadi Tim

Selain itu, alat yang diaplikasikan di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar ini juga dilengkapi speaker aktif dengan kekuatan ± 90 dB (decibel) sebagai media peringatan dini, yakni ketika gempa berlangsung maka dalam sekejap speaker akan mengeluarkan suara sirene. Hal ini dimaksudkan untuk kewaspadaan tahap awal juga metode menstimulasi warga area terdampak gempa bumi untuk bangun dari tidur ketika gempa terjadi pada malam hari.

Selanjutnya akan diteruskan suara persuasif sebagai media pemberitahuan bahwasannya telah terjadi gempa. Nantinya speaker akan berhenti setelah berbunyi selama ± 25 detik.

Ada batasan range kekuatan gempa dalam alat ini. Dimana hanya dapat berfungsi pada kekuatan gempa 4 SR (Skala Richter) keatas. Sebab range tersebut tergolong gempa berbahaya dan mampu merobohkan sebuah gedung.

Komponen Pendulum PEASE
Komponen Pendulum PEASE | Dok. Pribadi Tim

Apalagi menurut BPS (Badan Pusat Statistik), pada tahun 2015 tercatat total terjadi 184 kali gempa bumi diatas 5 SR. Jumlah kejadian gempa bumi berbanding lurus dengan dampak yang ditimbulkan, diantaranya sarana dan prasarana umum yang rusak sampai jatuhnya korban jiwa.

Penyebab tingginya korban jiwa tak lain karena jalur komunikasi antara petugas dan warga yang terlalu lama, masyarakat sendiri pun harus menunggu instruksi petugas akankah itu gempa berbahaya dan diharuskan segera mengungsi atau tidak.

Bersama PEASE, tim yang dimbimbing oleh Drs. Imam Sudjono, M.T., dosen Teknik Mesin UM ini  akan berlaga pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-30 di Universitas Muslim Indonesia (UMI)  Makassar pada tanggal 23–28 Agustus 2017. Di ajang ini pun tim membawa pesan tersirat bahwasannya sudah saatnya para mahasiswa bergerak aktif menanggulangi masalah di Indonesia dengan pemanfaatan teknologi modern. Karena sejatinya prestasi itu bukan ketika kita lebih baik dari yang lain, melainkan ketika kita lebih bermanfaat dari yang lain.

 

Penulis : Rangga Ega Santoso

 

Post Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *