Partikel Nano Magnetik dari Pasir besi Tulungagung_MAMITO_Foto pribadi tim

Jangan Remehkan! Pasir Besi Pantai Lokal Bisa Lho Diubah Menjadi Bahan Terapi Kanker

Kanker merupakan salah satu penyebab kematian utama di seluruh dunia. Pada tahun 2015, WHO menyebutkan bahwa terdapat 8,8 juta kematian disebabkan oleh kanker. Hingga saat ini, pengobatan kanker konvensional dirasa memiliki efek samping yang sangat berbahaya hingga dapat menyebabkan kematian. Dengan adanya material magnetik, pengobatan kanker melalui metode hipertermia menjadi solusi dari pengobatan kanker dengan cara aman. Salah satu bahan alam yang dapat dijadikan sumber material magnetik adalah pasir besi pantai. Oleh karenanya tiga Mahasiswa Fisika Universitas Negeri Malang memanfaatkan pasi besi pantai Sine, Tulungagung menjadi partikel nano magnetik sebagai agen terapi kanker.

Dalam penelitian berjudul MAMITO (Magnetic Hyperthermia Nanotechnology) ini, sebanyak 20 gram pasir besi pantai dapat menghasilkan material nano magnetik sebanyak 5-10 gram. Sehingga dengan daya jual pasir besi pantai yang cukup murah, menjadikan modifikasi pasir besi menjadi material magnetik berskala nano memiliki nilai jual lebih besar. Partikel nano magnetik yang dijadikan sebagai agen terapi kanker melalui hipertermia merupakan ide yang diprakarsai oleh Rosabiela Irfa Andina dengan timnya Nadiya Miftachul Chusna dan Siti Nur Halizah dibawah bimbingan  Dr. Sunaryono, M.Si, dosen Fisika UM.

Uji Magnetotermal MAMITO_Foto pribadi tim
Uji Magnetotermal MAMITO | Foto pribadi tim

Pengobatan kanker secara konvensional dapat berupa operasi, kemoterapi, ataupun radiasi. Sebagai contoh, kemoterapi menggunakan obat dalam menghancurkan atau memperlambat sel kanker. Namun dengan cara tersebut, sel sel sehat yang sedang berkembang juga akan hancur. Kerugian lainnya adalah banyaknya efek samping seperti kerontokan rambut, diare, mual, dan gangguan tidur. Untuk itu, dihadirkan partikel nano magnetik yang dimodifikasi menjadi hydrogel magnetik (bahan magnet dalam bentuk gel).

Prinsip utama dari terapi kanker ‘Hyperthermia’ adalah peningkatan temperatur pada organ atau jaringan tubuh antara 41 °C sampai 46 °C, peningkatan ini menyebabkan perubahan pada permeabilitas vaskular, percepatan aliran darah, dan menyebabkan oksigenasi pada  kanker sehingga sel kanker akan hancur. Saat ini Nano Magnetic Hyperthermia (NMH) menjadi terapi yang paling baik karena dengan bahan nano magnetic pemanasan dapat diatur pada sel kanker saja tanpa mengenai jaringan lain yang sehat, sehingga tidak merusak pertumbuhan dan perkembangan jaringan yang sehat. Manfaat dari PKM-PE (Program Kreativitas Mahasiswa-Penelitian Eksakta) yang lolos didanai KEMENRISTEKDIKTI (Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi) ini adalah meningkatkan daya guna pasir besi pantai lokal yang disintesis menjadi material magnetik sebagai agen terapi kanker yang bekerjasama dengan masyarakat medis guna mengurangi pasien penderita kanker di Indonesia.

 

Penulis : Rosabiela Irfa Andina

 

Post Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *