Tiga peneliti sosial humaniora di desa Karangwidoro Kec Dau Kab Malang

Efek Pembangunan Perumahan yang Sangat Masif, Mahasiswa UM Tertarik untuk Meneliti Perubahan Sosial Ekonomi Masyarakat Desa Karangwidoro

Setiap dinamika kehidupan manusia tentu mengalami perubahan. Perubahan terjadi diakibatkan oleh siklus alam atau karena adanya perubahan lingkungan sekitar yang disebabkan oleh manusia.

Melihat hal yang demikian, tiga mahasiswa Universitas Negeri Malang yaitu Abdul Haris (Pendidikan IPS 2014), Lutfi Bagus Subagio (Pendidikan Sejarah 2014), Fajar Santoso (Ilmu Sejarah 2016) dengan pembimbing Neni Wahyuningtyas, M.Pd., dosen Pendidikan IPS UM meneliti tentang keunikan fenomena ini di salah satu desa yang mengalami perubahan, yaitu Desa Karangwidoro, Dau, Malang. Desa Karangwidoro dahulunya lebih luas wilayah pertaniannya daripada wilayah pemukimannya. Saat ini, kondisi tersebut berbanding terbalik. Hal ini disebabkan karena adanya pembangunan perumahan di Desa Karangwidoro.

Menurut Eko Witono selaku kepala desa menuturkan bahwa pembangunan perumahan di desa ini berlangsung secara terus-menerus dan masif. Sejak tahun 1990-an hingga saat ini telah berdiri 9 perumahan di Desa Karangwidoro, dan luas lahan pertanian yang hilang diperkirakan sekitar 198 hektar.

Menggali informasi dari warga setempat
Menggali informasi dari warga setempat | Foto koleksi tim

Akibat yang ditimbulkan dari hilangnya lahan pertanian adalah masyarakat yang telah lama menetap, harus beradaptasi dengan kondisi lingkungan yang baru. Masyarakat Desa Karangwidoro yang sebelumnya merupakan masyarakat petani harus beradaptasi karena lahan pertanian telah menyempit.

Saat ini mata pencaharian masyarakat Desa Karangwidoro menjadi bervariatif. Hal tersebut menyebabkan adanya pola interaksi yang baru, dimana sebelumnya masyarakat melakukan interaksi ketika bekerja di sawah namun untuk saat ini interaksi yang dilakukan masyarakat terjadi ketika pagi hari sebelum bekerja dan malam hari setelah bekerja, ketika bekerja mereka jarang berinteraksi karena pekerjaan mereka telah bervariatif, berbeda dengan masa sebelumnya ketika mereka bekerja di sawah.

Furi (2007) menjelaskan bahwa Perubahan dalam penguasaan lahan di pedesaan membawa implikasi bagi perubahan pendapatan dan kesempatan kerja masyarakat yang menjadi indikator kesejahteraan masyarakat desa. Terbatasnya akses untuk menguasai lahan menyebabkan terbatas pula akses masyarakat atas manfaat lahan yang menjadi modal utama mata pencaharian sehingga terjadi pergeseran kesempatan kerja ke sektor non-pertanian. Masyarakat Desa Karangwidoro pun juga demikian.

Pasca adanya alih fungsi lahan kesempatan kerja yang ada di Desa Karangwidoro menjadi bervariasi. Saat masih memiliki lahan, kesempatan kerja hanya ada petani dan buruh tani, beberapa ada yang memelihara hewan ternak. Namun ketika telah berdiri perumahan kesempatan kerja menjadi lebih luas. Hingga saat ini mata pencaharian masyarakat Desa Karangwidoro menjadi bervariatif.

Salah satu tradisi yang masih dilestarikan
Salah satu tradisi yang masih dilestarikan | Foto koleksi tim

Selain itu, dulu Desa Karangwidoro secara keseluruhan didominasi oleh satu agama. Namun, ketika adanya pembangunan perumahan banyak masyarakat luar yang datang ke Desa Karangwidoro dengan berbagai macam latar belakang keyakinan.

Hal ini menyebabkan kehidupan manusia di Desa Karangwidoro menjadi beragam. Tak bisa dihindarkan, persepsi yang menginferiorkan kepercayaan lain menjadi hal yang pasti terjadi. Namun, gesekan secara nyata tidak pernah terjadi.

Meskipun begitu, masyarakat Desa Karangwidoro tetap memegang budaya leluhur mereka. Bentuk pelestariannya adalah tetap berlakunya kalender Jawa dalam perhitungan untuk melakukan selamatan dan beberapa ritual yang merupakan hasil kolaborasi antara budaya Islam dan Jawa.

Ritual tersebut berupa tahlilan, mithoni, nyadran, selamatan desa, selamatan dukuh dll. Samut selaku sesepuh Desa Karangwidoro menyatakan bahwasannya ritual tersebut tetap berjalan dan dilaksanakan karena kepercayaan masyarakat yang telah melekat sejak dahulu, kepercayaan ini semoga tetap bisa dilestarikan hingga hari kiamat kelak.

 

Penulis : Abd. Haris

Post Author: admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *